Selasa, 18 Mei 2010

Opini - Di Balik Ujian Nasional


Polemik perlu tidaknya Ujian Nasional (UN) diadakan sebagai penentu kelulusan siswa terus berlangsung di tengah masyarakat, namun UN juga terus berjalan dan memakan korban. Banyak sekolah di beberapa daerah yang tingkat ketidaklulusannya mencapai 100 persen. Para siswa stres dan korban-korban UN pun berjatuhan.
Apakah pemerintah tidak mau mendengar suara rakyat, termasuk juga pendapat para pakar pendidikan? Ataukah pemerintah punya agenda tersendiri dengan diselenggarakannya UN yang menjagal para siswa "tidak beruntung" layaknya alat sortir otomatis? Seperti pabrik yang mempunyai mesin sortir untuk menyingkirkan produk yang tidak memenuhi standar, dan meloloskan produk yang sempurna untuk diterima pasar?
Jawabannya ada di UU No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang pada pasal 50 ayat 3 berbunyi pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional.
Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) ini pada tahap awalnya berbentuk rintisan atau disebut Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Sekolah khusus berbiaya mahal ini dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas lengkap dan mahal, seperti ruangan yang ber-AC, kursi dan meja berkualitas, makan siang untuk para siswa disebabkan jam pelajaran berlangsung sampai sore, sarana audio visual, dan guru-guru dengan kemampuan khusus, serta buku-buku pelajaran tersendiri. Semua ongkos ditanggung oleh orang tua siswa dan dibebankan pada masa pendaftaran di awal tahun ajaran baru. Besarnya biaya bisa mencapai jutaan rupiah. Bisa anda bayangkan, baru rintisan sudah begitu mahal, bagaimana kalau sudah menjadi SBI.
Walaupun UU mengamanahkan paling sedikit hanya satu sekolah bertaraf internasional dalam suatu daerah, namun pertumbuhan RSBI cukup pesat di beberapa kabupaten atau kota tertentu. Diperkirakan karena adanya persaingan gengsi antar sekolah dan juga "bau uang" yang cukup menggiurkan.
Faktanya kelulusan siswa RSBI dalam menempuh UN tercatat memuaskan, dibanding dengan sekolah dengan kelas reguler. Mungkin sebabnya adalah sekolah lebih memprioritaskan pelayanan pengajaran bagi siswa yang sudah membayar mahal, dan juga untuk tetap menjaga mutu dan gengsi RSBI. Sehingga dengan ini diharapkan nilai jual RSBI juga semakin tinggi, dan orang tua calon siswa berlomba-lomba mendaftarkan anaknya di RSBI pada setiap tahun ajaran baru.

Kolom - UAN oh UAn

Sangat memprihatinkan tingkat kelulusan siswa SMA di indonesia untuk tahun ini yang dibuat oleh koran KOMPAS. Dari 1.522.162 siswa yang mengikuti ujian banyak yang tidak lulus mencapai angka 154.679 siswa dari seluruh indonesia. Siswa yang mengulang kebanyakkan mengulang 1 mata pelajaran sedangkan yang terkecil adalah 6 mata pelajaran. Ini sungguh angka yang sangat memprihatinkan untuk ujian tahun ini. Bahkan sampai ada sekolah yang siswanya tidak lulus 1 pun. Mengapa hal ini bisa terjadi? Sebaiknya pemerintah mulai mengoreksi kembali agar tidak semakin buruk lagi ujian yang akan datang dan menjadi pelajaran bagi pemerintah agar tidak terjadi lagi hal seperti ini karna walau bagaimananpun kepintaran seseorang bukan hanya dinilai dari ujian nasional.

( Nurdiyanto / 153080056 )

Selasa, 04 Mei 2010

Jerih Payah Sang Pembersih Kota

Yogyakarta merupakan tempat bersejarah yang memiliki berbagai keunikan serta keanekaragaman yang hingga saat ini selalu dilestarikan. Selain itu makanan tradisional seperti gudeg, bakpia, dll, juga tersedia. Yogyakarta yang kini dikenal kota pendidikan semakin ramai. Berbagai suku etnis ada guna menuntut ilmu. Perkembangan Yogyakarta yang hingga kini semakin pesat didukung juga dengan pusat perbelanjaan yang berada di Malioboro semakin padat dengan pengunjung. Namun, dengan semakin padatnya pengunjung maka kesadaran akan kebersihan akan berkurang juga. Kini terlihat begitu banyak sampah yang menumpuk diberbagai area sehingga membuat lingkungan tampak tidak sehat, tidak bersih, dan tidak enak untuk dipandang. Kota yang indah hendaknya memiliki lingkungan yang bersih terhindar dari sampah yang berserakan.
Di tengah keramaian Malioboro, orang tidak pernah memikirkan untuk membuang sampah pada tempatnya, ketika makan maka bungkusnya langsung dibuang ditempat tersebut tanpa mencari tempat sampah dimana. Namun Nur Syarif seorang petugas kebersihan dengan ketulusan hatinya membersihkan sampah – sampah yang menumpuk dengan penuh keikhlasan. Ia sudah bekerja selama 3 bulan sebagai penyapu jalanan wilayah Malioboro. “Saya tidak pernah malu bekerja seperti ini, dengan pekerjaan seperti ini saja saya sudah sangat bersyukur,”Ujarnya. Selain untuk mencari uang ia juga ingin membantu Pemerintah agar lingkungan tetap selalu bersih. Petugas kebersihan ini terdiri dari 7 orang. Masing – masing akan mendapatkan bagiannya sesuai sesi yang telah ditentukan. Pagi jam 06.00-11.00, dan siang jam 11.00-18.00. Gaji yang mereka terima sesuai UMR Rp.700.000. Dengan upah yang minim tersebut para petugas kebersihan berusaha untuk selalu mensyukurinya. Bisa kita bayangkan hidup dizaman saat ini dengan gaji 700.000/bln hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok seperti makan, belum lagi bagi petugas yang sudah berkeluarga harus memikirkan biaya pendidikan untuk anak – anaknya yang biayanya tidak sedikit. Maka dengan upah tersebut sangatlah pas – pasan dan mereka harus bisa mengatur pengeluaran sesuai dengan gaji yang mereka dapatkan. Kebersihan akan selalu dikontrol apalagi jika akan ada event – event seperti, kunjungan dari Adipura.
Menurut Nur Syarif, suka duka dalam melakukan pekerjaan seperti ini apabila belum terbiasa maka kita akan merasa jijik melihat sampah yang begitu banyak. Namun apabila sudah terbiasa akan merasa nyaman dalam melaksanakan tugasnya. Nur Syarif yang masih bujang ini selalu berusaha untuk mencari uang guna di tabung untuk masa depan serta membiayai kehidupan keluarganya. Untuk itu diharapkan kepada Pemerintah untuk lebih memperhatikan nasib para petugas kebersihan kota, agar mereka dapat memenuhi kebutuhan sehari – harinya.

Nama : Arum Puspita Sari
Nim : 153080172 / F

Berburu foto

Ido dan alen, seorang fotografer yang berusia 19 dan 20 tahun yang selalu hunting berkeliling demi hobi yang ia sukai yaitu photography. Dengan kamera masing-masing yang mereka miliki, siap memotret apa saya yang dianggap menarik. Mereka asli jogja yang merupakan salah satu mahasiswa universitas negeri di Yogyakarta. Hampir setiap harinya mereka disibukan dengan hunting, demi mendapatkan foto-foto yang menarik dan mempuunyai moment yang baik, “hampir semua objek yang ada dijogja sudah kami datangi”tambah alen. Selain hunting-hunting mereka juga sering mengadakan foto sesi (foto model), kadang juga mereka memotret hewan-hewan kecil atau yang disebut foto macro yang butuh kesabaran penuh.”yah kami sudah terbiasa dengan hal itu”kata ido. Tidak hanya dijogja saja, mereka kadang bahkan sering hunting kekota luar jogja demi suatu objek yang baik, contohnya malang, bandung,solo dll. Bahkan mereka juga berharap suatu saat mereka bisa hunting-hunting keluar negeri. Mungkin jadi seorang fotografer tidak lah mudah,butuh waktu yang lama dan pengalaman banyak untuk menjadi fotografer handal. Seperti ido yang sudah 5 tahun menggeluti dunia fotografi. Bagi mereka kepuasan suatu foto sungguh tak ternilai.

Sigit Prandoko (153080060)

Bunga sebagai penyokong hidup



Yogyakarta, Aroma wangi menyeruak ketika berjalan melewati sebelah selatan pinggiran pasar beringharjo. Deretan penjual-penjual bunga berjajar dengan begitu banyaknya bunga yang didomonasi mawar merah dan putih.
Terdapat salah satu penjual dengan wajah yang mulai keriput duduk merangkai tumpukan bunga melati yang dipesan oleh seorang pembeli. Seorang nenek berusia 85 tahun, bernama Mardi. Sudah 25 tahun beliau bekerja menjual bunga. Menurutnya selama 25 tahun itu 4 kali harus berpindah tempat untuk berdagang.
Bunga-bunga yang didagangkan tersebut didatangkan dari Boyolali, seoncot (sekarung) bunga dari penyetor seharga 20 ribu. Dengan setiap harinya beberapa karung bunga yang datang dari pemasok dan tidak selalu semua bunga-bunga itu laku terjual. Apabila penjualan ramai beliau bisa menjual 5 juta setiap harinya. Namun jika kondisi sepi hanya bisa memperoleh 500 ribu. Dengan hasil penjualan sebesar itu beliau harus menghidupi 15 orang anggota keluarganya. Anak-anak beliau juga ikut berdagang bunga, bahkan sekarang anaknya yang menggantikannya, karena beliau sudah tidak kuat berdagang lama-lama.
Dalam waktu 24 jam nonstop bunga-bunga itu didagangkan, pinggir jalan itu menjadi tempat unutk mereka tidur. Di situlah Mbah Mardi dan anak-anaknya tinggal, hanya dengan beralas tikar dan penutup tenda. Setiap pagi harus berurusan dengan petugas pasar yang mengusir mereka agar tidak tidur dan tinggal ditempat itu. Mbah Mardi sebenarnya memiliki rumah di Klaten, namun hanya sebulan sekali mereka pulang, itupun kalau ada urusan penting saja. Beliau dan anak-anaknya lebih banyak tinggal ditempat mereka jualan tersebut.
Dari hasil penjualan bunga tersebut beliau kini bisa membiayai kuliah cucunya. “sebelas anak saya hanya lulusan SMP semua, karena saya tidak punya uang untuk menyekolahkan, sekarang saya senang bisa membiayai kuliah cucu saya, walaupun saya juga masih hutang ke rentenir pasar” ujarnya. Dari bunga-bunga yang didagangkan tidak setiap hari laku keras, hanya apabila ada pesanan dari perias dan ada orang yang meninggal saja beliau dapat memperoleh hasil banyak. “ saya selalu berharap banyak yang membeli bunga di sini, namun tidak mendoakan orang yang meninggal banyak” kata beliau. Sering juga mengalami kerugian karena harus membuang beberapa karung bunga yang membusuk karena tidak ada pembeli.
Pak Darto pelanggan disitu mengatakan” saya sudah bertahun-tahun langganan bunga disini, tadi pagi Bapak saya meninggal, jadi membeli bunga ini untuk nyekar besok”.
Buakn berarti doa Mbah Mardi agar setiap hari banyak orang yang meninggal, tetapi agar bunga yang menjadi penyokong kehidupan beliau dan keluarganya setiap harinya dapat bermanfaat terhadap apapun penggunaannya. 
Ririn Setyo Utami 153080174




Mengenal Komunitas Motor Matic di Jogjakarta
  Jogjakarta selain terkenal dengan gudegnya yang lezat mempunyai ciri kas lain dibandingkan kota-kota lain di Indonesia. Banyaknya club dan komunitas pecinta motor juga merupakan keistimewaan kota jogja, salah satunya ialah pecinta motor matic.
Geg, biasa disapa oleh para anggotanya, adalah seorang ketua club motor matic yaitu Jogja Scooter Matic (JSM). Club motor ini biasa berkumpul di jalan Senopati lebih tepatnya di depan Bank Indonesia yang berlokasi di kota Jogjakarta pada setiap malam minggu. Klub mtor yang telah beranggotakan 55 motor ini biasa mengadakan kegiatan rutin bakti social setiap tiga bulan sekali, serta kegiatan touring antar kota setiap satu bulan sekali yang bertujuan menjalin persahabatan antar komunitas pecinta motor matic. Geg, mengatakan bahwa, “ tujuan dibentuknya klub motor matic ini adalah untuk mengumpulkan semua pecinta motor matic di Jogjakarta dan untuk memberitahukan kepada pengandara sepeda motor lain agar tahu betapa pentingnya safty riding, yaitu kelengkapan dalam berkendara agar aman.”
  Kelengkapa berkendara sangat dipentingkan bagi seluruh anggota Jogja Scooter Matic (JSM), patuhi rambu-rambu lalulintas agar tidak terjadi kesalahan dan kecelakaan yang berakibat merugikan diri sendiri dan orang lain. ( Sigit Aji Saputro 153080064 )





Senin, 03 Mei 2010

FEATURE - SEKILAS MENGENAL YMCI CHAPTER YOGYAKARTA

YMCI chapter jogja yang dulu merupakan club motor yang kecil sekarang sudah menjadi club motor yang besar dan terkenal dijogja.

YOGYAKARTA,(17/04) YMCI chapter jogja merupakan sub chapter dari YMC Indonesia. YMCI chapter jogja yang sekarang beranggotakkan 35 orang yang aktif. YMCI sendiri merupakan merupakkan club motor yang anggotanya memiliki motor Yamaha Jupiter MX. Club ini berkumpul atau kopdar dalam istilah club setiap hari rabu malam dan malam minggu pukul 9 malam bertempat dibalaikota tiap rabu lalu malam minggunya bertempat didepan taman pintar yang berada didaerah malioboro. Angotanya pun berstatus ada yang sudah kerja, mahasiswa, dan pelajar. Kegiatan yang dilakukan tidak seperti genk motor menurut Agus Hartadi selaku Humas dari YMCI chapter jogja, ia mengatakan kegiatan yang dilakukan dalam club ini bermacam-macam dan dalam hal positif misalkan touring, kopdar, sharing bring antar anggota, bakti social, mengikuti event modifikasi. Dan selalu mentaati peraturan lalu lintas yang berlaku di Indonesia. Ia mengatakan bagi yang bermnat gabung YMCI syaratnya sangat mudah dating saja langsung ke tempat kopdar YMCI chapter jogja lalu bila sudah lihat bagaimana YMCI chapter jogja dan ingin bergabung langsung saja mengisi formulir pendaftarannya plus uang pendaftarannya. Jadi bagi yang berminat jangan ragu-ragu buat bergabung kata dari Humas YMCI chapter jogja.

BY: NURDIYANTO (153080056)