Selasa, 18 Mei 2010

Kolom


Sri Mulyani vs Politik Indonesia
Pengunduran diri Sri Mulyani sebagai pejabat public mempunyai alasan tersendiri dimana dia merasa dipojokkan dalam panggung politik. Ia jg menyampaikan dalam kuliah umum yang bertemakan kebijakan publik dan etika public di Ballroom Rot Carlton. Dan juga Sri Mulyani saat ini menganggap dirinya hanya seorang pembantu pemerintah. Sri Mulyani juga merasa ketika sudah menjadi bagian dimana tidak dikehendaki dalam system politik maka perkawinan kepentingan antar kelompok tadi sudah sangat dominan dan kental. Ia menegasan tentang dirinya yang bukan merupakan dari sebuah partai politik namun bukan berarti dia tidak mengerti politik.
Namun dari masalah yang ia hadapi saat ini, ia memutuskan meninggalkan jabatanya sebagai menteri keuangan dan menerima jabatan menjadi Managing Director Bank Dunia,dan ia mengakatakan dengan kepindahanya bukan berarti ia kalah atau lari dari politik.
Sigit Prandoko (153080060)
- KOLOM

OSPEK. . .OSPEK

Perploncoan dikalangan siswa baru dirasa cukup menakutkan. Apalagi adanya persaingan antara senior dengan junior. Hal ini tak hanya membuat para siswa baru merasa takut, namun membuat sejumlah orang tua merasa khawatir. kekhawatiran ini sebenarnya muncul karena adanya beberapa para orang tua takut akan anaknya bila mendapat kekerasan.
Aktivitas perploncoan yang saat ini masih menjadi suatu tradisi, dirasa akan sulit untuk dihilangkan. Hal ini akan terasa ketika kita memasuki SMP, SMA, dan apalagi ketika kita memasuki dunia Perguruan Tinggi semuanya akan diawali dengan kegiatan seperti itu. Hal seperti ini akan membuat was – was bagi para mahasiswa baru yang akan memasuki perkuliahan. Namun sebenarnya hal seperti ospek ini boleh saja untuk tetap dilestarikan, hanya saja kegiatan ini harus jauh dari tindak kekerasan, agar tidak membuat para mahasiswa merasa dirinya dianiaya.
Hal yang lebih penting sebenarnya menekankan pada pengenalan berbagai tempat serta kelengkapan yang berada dikampus tersebut. Sehingga mahasiswa baru mengetahui apa yang tersedia dikampus tersebut. Kegiatan seperti ini akan lebih membuat para mahasiswa baru untuk lebih bersemangat dan bisa memelihara serta menggunakannya dengan baik.



- ARTIKEL OPINI

PENGARUH PERKEMBANGAN TEKNOLOGI

Pada saat ini perkembangan teknologi sudah semakin maju. Dimana orang saat ini untuk mendapatkan berita atau informasi sudah sangat mudah memperolehnya. Dari sekian banyak kemajuan teknologi salah satu diantaranya adalah televisi. Berbicara mengenai televisi, tentu ada tiga pihak yang terlibat di dalamnya, yakni yang menyajikan, yang disajikan dan yang menikmati. Televisi yang selama ini berperan sebagai media massa elektronik ternyata mampu mempengaruhi dan menggiring seluruh masyarakat untuk membeli dan memilikinya di berbagai belahan bumi ini sehingga boleh jadi sampai hari ini, sudah sekian milyar pesawat televisi diproduksi banyak pabrik di seluruh dunia. Sementara merk, harga, mutu dan modelnya pun sudah sangat beragam dan banyak pilihan.
Kehadiran televisi sesungguhnya telah menimbulkan berbagai fenomena. Televisi memang mampu menayangkan acara-acara yang begitu menarik karena telah dilengkapi dengan aksesori-aksesori sehingga membuat pemirsanya begitu mengagumi televisi. Walaupun tanpa mereka sadari, televisi mampu mengubah mereka sedikit demi sedikit. Tertariknya seseorang terhadap suatu acara televisi maka secara tidak langsung akan membuat seseorang tersebut merasa terbuang waktunya hanya untuk menyaksikan acara televisi yang sebenarnya tidak bermanfaat. Terkadang acara televisi tidak memandang dari segi positifnya, namun hanya memandang dari segi ekonominya. Bagaimana agar penonton tertarik dengan acara yang di kemas sedemikian rupa sehingga menghasilkan rating yang tinggi.
Dampak yang ditimbulkan justru lebih berat di banding dengan mendapatkan hal dari segi materi. Karena untuk pengaruhnya sangat berkaitan dalam kehidupan sehari – hari khususnya anak – anak yang masih dalam tahapan memasuki masa dewasa. Anak – anak pada tahap menuju dewasa akan mulai memilah – milah hal yang baik untuk dicontoh. Apabila pengaruh televisi begitu keras maka anak akan condong ke hal yang kurang positif apalagi didukung dengan lingkungan yang tidak bersahabat. Dengan ini Banyak ragam acara-acara televisi yang disiarkan oleh berbagai stasiun televisi untuk lebih menyajikan acara yang disiarkan bertema pendidikan bagi anak-anak.
ARUM PUSPITA SARI (153080172)
KOLOM
Ujian Nasional memberikan dampak psikologis

Ujian nasional memang telah berlangsung beberapa bulan lalu, namun banyak sekali polemic yang menyangkut dirinya. Banyak yang tidak setuju dengan diadakannya ujian nasional sebagai patokan kelulusan siswa dan mengharapkan ujian nasional dapat dihapuskan. Apalagi pada tahun ini jumlah siswa-siswi baik dari pelajar SMA maupun SMP banyak yang dinyatakan tidak lulus.
Kalau dilihat dari tahun ketahun jumlah pelajar yang tidak lulus dalam ujian nasional bisa dikatakan selalu meningkat. Namun mendiknas tetap saja melangsungkan UN yang dirasa sangat meberatkan bagi para pelajar. Hal ini tentunya membuat masyarakat bahkan pendidik sebal dengan pemerintah yang dianggap tidak mau mendengarkan suara rakyat.
Tidak sedikit juga masalah-masalah yang timbul dengan adanya UN, terutama bagi pelajar yang merasa UN berakibat pada psikologis si siswa. Apalagi jika siswa dinyatakan tidak lulus tentu akan menanggung beban psikologi yang berat. Meskipun tahun ini ada ujian susulan, tetapi tetap saja bisa memberikan efek yang buruk terhadap kondisi si anak. Mereka akan merasa malu dan dianggap bodoh terhadap lingkungan mereka. Kondisi seperti inilah yang mungkin tidak diperhatikan oleh pemerintah yang bersikeras dalam pengadaan UN.
Ririn Setyo Utami (153080174)
OPINI



KPK-polisi

Terkait perselisihan polisi-KPK, jika berlarut-larut, akan memperburuk iklim investasi dan menurunkan kredibilitas, yaitu perbaikan dalam memberantas korupsi. Karena pertentangan antarlembaga yang terkait penegakan hukum dan pemberantasan korupsi, usulan untuk dibentuknya komisi independen untuk mengklarifikasi sudah terpenuhi dan mengeluarkan rekomendasi terkait tuduhan terhadap Wakil Ketua (nonaktif) KPK Chandra dan Bibit. Diharapkan keputusan segera keluar sehingga kredibilitas pemberantasan korupsi dapat dipulihkan bahkan mengalami peningkatan.
Begitu besar peluang Indonesia untuk mengembangkan perekonomiannya. Sayang jika kesempatan ini kurang dimanfaatkan, bahkan harapannya menurun karena kesalahan internal pemerintah. Kesalahan ini harus diperbaiki agar kesempatan dapat dimanfaatkan optimal dan mendapat hasil lebih baik. (Sigit Prandoko 153080060)
OPINI


Sekolah (kok) Model-model
Tiga puluh tahun silam, kita hanya mengenal SD biasa dan SD Impres. Dalam pengamatan umum, SD Impres selalu dikonotasikan sebagai sekolah sekolah yang kualitasnya rendah : gedung buruk, fasilitas terbatas dan murid “ndesa”. Tapi sekarang, kita bisa menyaksikan bermacam-macam model sekolah : SD terpadu, SD rintisan, SD percobaan, SD unggulan dan lain-lain. Semua dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan sehingga menghasilkan lulusan yang terbaik. Sekolah-sekolah model tersebut menawarkan banyak hal : bertaraf internasional, sebagian pengantarnya bahasa inggris, full day dan peralatan serba computer. Tentu tidak, tidak ada orang tua yang tidaj setuju kalau anaknya dididik secara baik dan hasilnya memuaskan. Hanya saja, banyak hal yang perlu diperhatikan agar tujuan sekolah tersebut justru tidak counter-produktive. Pertama, demi mengejar kualitas seringkali kurikulum dibangun tanpa memperhatikan psikologi anak. Sekolah-sekolah member murid dengan beban yang luar biasa. Sejak kelas 1 SD anak sudah dibuatkan lebih dari 10 macam modul yang harus dibaca berulang-ulang dan diuji secara tertulis, lalu dinyatakan lulus dan berhak naik kelas. Negara mana sebenarnya yang menjadi ‘acuan internasional’? di beberapa Negara maju, pendidikan SD adalah bermain sambil belajar. ( Sigit Aji Saputro / 153080064 )

KOLOM

UN Bukan pilihan Siswa?
Tahun ajaran 2009/2010 dianggap momok mengerikan bagi sebagian besar pelajar di Indonesia. Banyak orangtua yang memiliki anak kelas tiga atau setaranya menjadi gelisah menunggu hasil pengumuman UN. Kini terbukti hasil UN tahun ini menjadi sejarah terburuk bagi dunia pendidikan Indonesia, hampit setengah dari seluruh jumlah pelajar Indonesia yang tidak lulus Ujian Nasionaln namun pemerintah memiliki solusi dengan mengadakan ujian susulan untuk mengantisipasi siswa yang belum lulus. (Sigit Aji Saputro /153080064)

Opini - Di Balik Ujian Nasional


Polemik perlu tidaknya Ujian Nasional (UN) diadakan sebagai penentu kelulusan siswa terus berlangsung di tengah masyarakat, namun UN juga terus berjalan dan memakan korban. Banyak sekolah di beberapa daerah yang tingkat ketidaklulusannya mencapai 100 persen. Para siswa stres dan korban-korban UN pun berjatuhan.
Apakah pemerintah tidak mau mendengar suara rakyat, termasuk juga pendapat para pakar pendidikan? Ataukah pemerintah punya agenda tersendiri dengan diselenggarakannya UN yang menjagal para siswa "tidak beruntung" layaknya alat sortir otomatis? Seperti pabrik yang mempunyai mesin sortir untuk menyingkirkan produk yang tidak memenuhi standar, dan meloloskan produk yang sempurna untuk diterima pasar?
Jawabannya ada di UU No.20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) yang pada pasal 50 ayat 3 berbunyi pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional.
Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) ini pada tahap awalnya berbentuk rintisan atau disebut Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Sekolah khusus berbiaya mahal ini dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas lengkap dan mahal, seperti ruangan yang ber-AC, kursi dan meja berkualitas, makan siang untuk para siswa disebabkan jam pelajaran berlangsung sampai sore, sarana audio visual, dan guru-guru dengan kemampuan khusus, serta buku-buku pelajaran tersendiri. Semua ongkos ditanggung oleh orang tua siswa dan dibebankan pada masa pendaftaran di awal tahun ajaran baru. Besarnya biaya bisa mencapai jutaan rupiah. Bisa anda bayangkan, baru rintisan sudah begitu mahal, bagaimana kalau sudah menjadi SBI.
Walaupun UU mengamanahkan paling sedikit hanya satu sekolah bertaraf internasional dalam suatu daerah, namun pertumbuhan RSBI cukup pesat di beberapa kabupaten atau kota tertentu. Diperkirakan karena adanya persaingan gengsi antar sekolah dan juga "bau uang" yang cukup menggiurkan.
Faktanya kelulusan siswa RSBI dalam menempuh UN tercatat memuaskan, dibanding dengan sekolah dengan kelas reguler. Mungkin sebabnya adalah sekolah lebih memprioritaskan pelayanan pengajaran bagi siswa yang sudah membayar mahal, dan juga untuk tetap menjaga mutu dan gengsi RSBI. Sehingga dengan ini diharapkan nilai jual RSBI juga semakin tinggi, dan orang tua calon siswa berlomba-lomba mendaftarkan anaknya di RSBI pada setiap tahun ajaran baru.

( Nurdiyanto / 153080056 )